ONEXA disetujui sebagai obat untuk diabetes pada orang dewasa yang menderita obesitas tipe 2. Seperti yang dikutip dari Drugs.com, Onexa bekerja efektif dengan cara mampu mengurangi nafsu makan, tetapi membuat pasien tetap merasa kenyang. (Media Hidup Sehat)
Menyembuhkan diabetes lebih cepat !!! Menggunakan metode medis, psikoterapi, akupesur, dlsb. Untuk keterangan, silakan hubungi Ibu LieLie atau Sinshe Hans di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0852 8369 9911, 0819 3261 8088, 0856 8361 333, 0823 1151 9911 atau email: htsebastian@gmail.com.
Kursi Roda
Minggu, 05 Agustus 2012
Sabtu, 04 Agustus 2012
Erwin Parengkuan, Batasi Konsumsi Gula
PRESENTER Erwin Parengkuan kini benar-benar membatasi konsumsi gula. Pengalaman penyakit diabetes yang merenggut nyawa sang ibunda membuatnya memilih makanan sehat.
"Satu hari sebelum (ibu) meninggal dunia, saya jemput ke rumah. Dia sempat ngigau begitu. Saya pikir kenapa sehingga saya ajak dia ke rumah sakit. Ternyata, enggak berapa lama di koma, setelah itu meninggal," cerita lelaki kelahiran Manado, 4 Februari 1970 itu di sebuah acara di Jakarta, Minggu (24/6).
Bapak empat anak itu kemudian memutuskan untuk membatasi penggunaan gula dalam makanan atau minuman sehari-hari. Ia meminta sang istri, Jana Parengkuan, untuk membuat kue yang aman bagi penderita diabetes. Permintaan itu diluluskan sang istri. Bahkan, hasil racikan Jana dijual di toko kue milik mereka. "Aku minta sama dia kenapa enggak, kamu mulai mencoba buat produk khusus untuk penderita diabetes." (DIN/H-1)
Jumat, 03 Agustus 2012
Bahaya Konsumsi Gula Berlebih pada Anak
KEKURANGAN nutrisi mengakibatkan rendahnya tingkat tumbuh kembang dan kualitas kecerdasan anak. Sebaliknya apabila kelebihan nutrisi, anak berisiko terkena penyakit obesitas, diabetes, dan jantung. Karena itu, dibutuhkan jumlah nutrisi yang seimbang agar anak dapat mencapai tumbuh kembang yang baik.
Salah satu unsur nutrisi yang paling dibutuhkan anak dalam usia tumbuh kembang ialah karbohidrat. Dalam usia pertumbuhan, yakni usia nol hingga lima tahun, anak membutuhkan asupan karbohidrat sederhana seperti gula agar lebih cepat diserap menjadi energi.
"Namun, konsumsinya harus diperhatikan. Jangan berlebihan," kata dr Muliaman Mansyur, Medical Marketing Manager of PT Fonterra Brands Indonesia, dalam acara bertema Healthy food for Healthy Kids di RS Pantai Indah Kapuk, Sabtu (28/7).
Gula, lanjut Muliaman, merupakan zat makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi. Jika asupannya berlebih, anak tidak akan dapat berkonsentrasi dengan baik, menderita karies gigi, mengalami kenaikan berat badan yang cepat, dan kerusakan pada pankreas yang menyebabkan terganggunya produksi insulin hingga berisiko menderita diabetes tipe 2 saat dewasa. Tak hanya itu, kelebihan asupan gula juga mengganggu kesehatan jiwa anak.
"Pada anak usia prasekolah, kelebihan gula mungkin dapat menurunkan kualitas belajar, membuat anak terlalu aktif dan agresif. Menambahkan nutrisi yang seimbang dapat membantu meningkatkan kemampuan belajar dan memperbaiki perilaku," kata dokter spesialis kesehatan jiwa Tjhin Wiguna pada kesempatan sama.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan asupan gula tambahan tidak melebihi 10% dari total energi yang dikonsumsi anak. Orangtua perlu memperhatikan jenis-jenis makanan yang dikonsumsi anak. Makanan seperti biskuit, cokelat, permen dan susu pertumbuhan justru menggunakan gula tambahan berlebih. "Berdasarkan kategorinya, jenis gula tambahan itu antara lain sirup jagung padat, sukrosa dan sirup glukosa padat,"katanya.
Selain membatasi gula tambahan, Muliaman menyarankan agar orangtua memberi asupan makanan yang bervariasi setiap harinya untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan nutrisi anak termasuk zat-zat mikronutrien seperti kalsium, zat besi, serat folat serta vitamain A, B, C, D, dan E. (*/H-3)
Persepsi dan Rasa Lapar
ORANG-ORANG yang diminta mencicipi makanan yang digambarkan sebagai 'sehat' merasa lebih lapar setelahnya ketimbang mereka yang mencoba makanan yang sama yang dilabeli 'lezat'.
"Mereka lebih lapar ketimbang jika tidak memakan apa pun atau melahap makanan tanpa memikirkan faktor kesehatan," kata Ayelet Fishbach, profesor ilmu perilaku dan pemasaran Univesitas Chicago.
Fishbach dan tim mengadakan sejumlah eksperimen untuk mengeksplorasi dampak persepsi mengenai kandungan makanan dan seberapa jauh hal itu dapat membuat seseorang merasa kenyang. Para peneliti meminta 51 mahasiswa memakan cokelat batangan dengan campuran rasberi. Kepada sebagian partisipan studi, para peneliti mengatakan cokelat tersebut sebagai 'cokelat sehat' yang mengandung banyak protein, vitamin, dan serat. Sementara itu, sebagian lainnya diberitahu bahwa cokelat itu 'sangat lezat dan enak.'
Hasilnya mereka yang memakan cokelat berlabel 'sehat' merasa lebih lapar daripada penyantap makanan berlabel 'lezat'. (EP/HealthDayNews/X-10)
Fishbach dan tim mengadakan sejumlah eksperimen untuk mengeksplorasi dampak persepsi mengenai kandungan makanan dan seberapa jauh hal itu dapat membuat seseorang merasa kenyang. Para peneliti meminta 51 mahasiswa memakan cokelat batangan dengan campuran rasberi. Kepada sebagian partisipan studi, para peneliti mengatakan cokelat tersebut sebagai 'cokelat sehat' yang mengandung banyak protein, vitamin, dan serat. Sementara itu, sebagian lainnya diberitahu bahwa cokelat itu 'sangat lezat dan enak.'
Hasilnya mereka yang memakan cokelat berlabel 'sehat' merasa lebih lapar daripada penyantap makanan berlabel 'lezat'. (EP/HealthDayNews/X-10)
Kamis, 02 Agustus 2012
Menurunkan Berat Badan dengan Berpuasa
PUASA di bulan suci Ramadhan selain menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, ternyata juga dimanfaatkan sebagai momen untuk melakukan diet. Banyak orang menganggap berat badan akan turun pada bulan puasa. Namun, apakah puasa cukup efektif untuk mengurangi berat badan? Dan bagaimana caranya agar optimal?
Spesialis gizi klinis dr Cindiawaty Josito Pudjiadi MARS, MS, SpGK mengemukakan prinsip menurunkan berat badan pada saat puasa atau tidak puasa sebenarnya sama saja. Prinsipnya, yaitu menurunkan total asupan sekitar 500 kalori.
"Tapi, puasa merupakan saat yang tepat untuk membantu kita menurunkan berat badan karena bila pilihan makanan dan minuman kita tepat, asupan kita mudah lebih rendah daripada biasanya," ungkap Cindiawaty kepada Media Indonesia, Sabtu (28/7).
Menurutnya, yang sering membuat seseorang itu bertambah berat badannya pada waktu puasa ialah lupa sahur sehingga ketika waktu buka puasa terasa lapar sekali.
Selain itu, pada waktu berbuka sering mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan sehingga total asupan kalori juga jadi lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Dia menyarankan agar mengonsumsi makanan yang lengkap saat sahur tiba. Lengkap dimaksud ialah mengandung sumber-sumber karbohidrat terutama karbohidrat komplek (seperti, roti gandum, havermut, nasi merah, dan lain-lain), sumber protein (ayam, ikan , tahu, tempe), dan sumber lembak (minyak zaitun, minyak kanola yang ditambahkan ke makanan yang sudah matang), serta sayur dan buah.
"Kemudian, makanan sebaiknya dalam bentuk disup, tumis, pepes, tim, dan panggang. Hindari makanan yang digoreng atau bersantan kental," kata spesialis gizi klinis yang biasa berpraktik di RS Gading Pluit dan RS Medistra tersebut.
Selanjutnya, selain menghindari makanan dan minuman yang manis secara berlebihan saat buka puasa, makanan yang dikonsumsi pun tetap makanan yang lengkap seperti saat sahur. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah total asupan.
Apabila memungkinkan, kata Cindiawaty, tetap melakukan olahraga misalnya berjalan cepat, joging, dan bersepeda. Olahraga dapat dilakukan pada waktu menjelang buka puasa, sesudah buka puasa, ataupun pada waktu sahur.
"Tapi perlu diingat, kebutuhan air putih sekitar 8 gelas dalam sehari sebaiknya tetap dipenuhi," tegas dia.
Menurut Cindiawaty, tiap orang diperbolehkan melaksanakan diet dengan berpuasa, asalkan tidak menderita penyakit berat dan tidak sedang hamil. "Sesuai kondisi kesehatan saja. Kalau merasa sedang tidak enak badan, jangan dipaksakan," jelasnya.
Namun, kata Cindiawaty, apabila ingin mengetahui lebih lanjut kondisi kesehatan agar bisa melakukan diet, lebih baik berkonsultasi kepada dokter spesialis gizi klinis. Mengingat tiap individu itu unik, dokter bisa mengaur lebih individual dan rinci tentang konsumsi dan olahraga yang dibutuhkan.
Ketua Yayasan Gerakan Sadar Gizi Tirta Prawita Sari juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, puasa yang benar dapat membantu seseorang menurunkan jumlah lemak dan berat badan. "Tapi, bisa saja tak terjadi penurunan berat badan atau berat badan malah meningkat jika kita tidak memperhatikan menu makan dan aktivitas selama puasa," ujar Tirta. (*/H-2)
Spesialis gizi klinis dr Cindiawaty Josito Pudjiadi MARS, MS, SpGK mengemukakan prinsip menurunkan berat badan pada saat puasa atau tidak puasa sebenarnya sama saja. Prinsipnya, yaitu menurunkan total asupan sekitar 500 kalori.
"Tapi, puasa merupakan saat yang tepat untuk membantu kita menurunkan berat badan karena bila pilihan makanan dan minuman kita tepat, asupan kita mudah lebih rendah daripada biasanya," ungkap Cindiawaty kepada Media Indonesia, Sabtu (28/7).
Menurutnya, yang sering membuat seseorang itu bertambah berat badannya pada waktu puasa ialah lupa sahur sehingga ketika waktu buka puasa terasa lapar sekali.
Selain itu, pada waktu berbuka sering mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan sehingga total asupan kalori juga jadi lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Dia menyarankan agar mengonsumsi makanan yang lengkap saat sahur tiba. Lengkap dimaksud ialah mengandung sumber-sumber karbohidrat terutama karbohidrat komplek (seperti, roti gandum, havermut, nasi merah, dan lain-lain), sumber protein (ayam, ikan , tahu, tempe), dan sumber lembak (minyak zaitun, minyak kanola yang ditambahkan ke makanan yang sudah matang), serta sayur dan buah.
"Kemudian, makanan sebaiknya dalam bentuk disup, tumis, pepes, tim, dan panggang. Hindari makanan yang digoreng atau bersantan kental," kata spesialis gizi klinis yang biasa berpraktik di RS Gading Pluit dan RS Medistra tersebut.
Selanjutnya, selain menghindari makanan dan minuman yang manis secara berlebihan saat buka puasa, makanan yang dikonsumsi pun tetap makanan yang lengkap seperti saat sahur. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah total asupan.
Apabila memungkinkan, kata Cindiawaty, tetap melakukan olahraga misalnya berjalan cepat, joging, dan bersepeda. Olahraga dapat dilakukan pada waktu menjelang buka puasa, sesudah buka puasa, ataupun pada waktu sahur.
"Tapi perlu diingat, kebutuhan air putih sekitar 8 gelas dalam sehari sebaiknya tetap dipenuhi," tegas dia.
Menurut Cindiawaty, tiap orang diperbolehkan melaksanakan diet dengan berpuasa, asalkan tidak menderita penyakit berat dan tidak sedang hamil. "Sesuai kondisi kesehatan saja. Kalau merasa sedang tidak enak badan, jangan dipaksakan," jelasnya.
Namun, kata Cindiawaty, apabila ingin mengetahui lebih lanjut kondisi kesehatan agar bisa melakukan diet, lebih baik berkonsultasi kepada dokter spesialis gizi klinis. Mengingat tiap individu itu unik, dokter bisa mengaur lebih individual dan rinci tentang konsumsi dan olahraga yang dibutuhkan.
Ketua Yayasan Gerakan Sadar Gizi Tirta Prawita Sari juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, puasa yang benar dapat membantu seseorang menurunkan jumlah lemak dan berat badan. "Tapi, bisa saja tak terjadi penurunan berat badan atau berat badan malah meningkat jika kita tidak memperhatikan menu makan dan aktivitas selama puasa," ujar Tirta. (*/H-2)
Rabu, 01 Agustus 2012
Larangan Minuman yang Sangat Manis di New York, Amerika Serikat
Wali kota New York Michael Bloomberg kembali memperkenalkan gaya hidup sehat. Kemarin, dia mengusulkan larangan minuman yang sangat manis, dan mungkin akan efektif mulai Maret 2013. Bloomberg menyebutkan, kegemukan adalah sebuah "epidemi". "Kegemukan adalah epidemi yang terjadi di negara ini. Persentase dari orang yang kegemukan terus melonjak," ujar Bloomberg. Larangan wali kota kaya raya itu tidak perlu disetujui dewan kota. Kelak, Bloomberg akan melarang minuman bersoda dengan volume lebih dari 0,47 liter. Aturan baru itu ditujukan kepada restoran cepat saji dan tempat hiburan umum seperti stadion. Aturan ini tdiak termasuk minuman ringan di supermarket atau minuman beralkohol. Selain soal kegemukan, Bloomberg telah terlebih dahulu melarang warganya merokok di kantor, bar, lapangan parkir, dan pantai. (APF/JOE)
Gen Obesitas dan Pola Makan
PARA peneliti di Pusat Penelitian Diabetes dan Pengendalian Berat Badan Rumah Sakit Miriam, AS, menyatakan seseorang dengan variasi 'gen obesitas' tertentu cenderung makan makanan dan camilan lebih banyak, mengonsumsi lebih banyak kalori per hari, dan sering memilih makanan berkadar lemak tinggi serta makanan manis jika dibandingkan dengan orang lain pada umumnya.
Dalam penelitian itu terungkap variasi tertentu dalam gen FTO dan BDFN yang sebelumnya dikaitkan dengan obesitas memungkinkan adanya keterkaitan pola makan yang mengakibatkan obesitas. FTO dan BDFN yang dinyatakan adalah bagian otak yang mengontrol makan serta nafsu makan. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Clinical Nutrition pada Juni ini juga menunjukkan risiko genetik obesitas dapat diminimalisasi dengan mengubah pola makan seseorang dan waspada terhadap pemilihan makanan.
Termasuk juga dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur. "Memahami bagaimana gen kita memengaruhi obesitas sangatlah penting untuk mencoba memahami penyakit obesitas. Namun penting untuk diingat bahwa dari sifat-sifat genetik saja tidak berarti obesitas tidak dapat dihindari," kata penulis utama Jeanne M McCaffery PhD dari Pusat Penelitian Diabetes dan Pengendalian Berat Badan Rumah Sakit Miriam.
Pilihan gaya hidup sangat penting untuk menentukan seberapa kurus atau gemuk seseorang terlepas dari sifat genetiknya. "Namun, dengan mengungkapkan penanda genetik, kita dapat menentukan intervensi di masa depan untuk mengontrol obesitas bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan genetik." Para peneliti juga menemukan seseorang dengan variasi BDFN ternyata mengonsumsi susu, daging, telur, kacang-kacangan dan biji-bijian dengan porsi lebih banyak. (Sciencedaily/*/L-2/Riset MI/M-1)
Dalam penelitian itu terungkap variasi tertentu dalam gen FTO dan BDFN yang sebelumnya dikaitkan dengan obesitas memungkinkan adanya keterkaitan pola makan yang mengakibatkan obesitas. FTO dan BDFN yang dinyatakan adalah bagian otak yang mengontrol makan serta nafsu makan. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Clinical Nutrition pada Juni ini juga menunjukkan risiko genetik obesitas dapat diminimalisasi dengan mengubah pola makan seseorang dan waspada terhadap pemilihan makanan.
Termasuk juga dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur. "Memahami bagaimana gen kita memengaruhi obesitas sangatlah penting untuk mencoba memahami penyakit obesitas. Namun penting untuk diingat bahwa dari sifat-sifat genetik saja tidak berarti obesitas tidak dapat dihindari," kata penulis utama Jeanne M McCaffery PhD dari Pusat Penelitian Diabetes dan Pengendalian Berat Badan Rumah Sakit Miriam.
Pilihan gaya hidup sangat penting untuk menentukan seberapa kurus atau gemuk seseorang terlepas dari sifat genetiknya. "Namun, dengan mengungkapkan penanda genetik, kita dapat menentukan intervensi di masa depan untuk mengontrol obesitas bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan genetik." Para peneliti juga menemukan seseorang dengan variasi BDFN ternyata mengonsumsi susu, daging, telur, kacang-kacangan dan biji-bijian dengan porsi lebih banyak. (Sciencedaily/*/L-2/Riset MI/M-1)
Langganan:
Postingan (Atom)